puisi

Juli 16, 2008

Bercermin di kaca kehidupan

Betapapun suramnnya langit sore ini

Itu bertanda kuasanya

Akan hujankah !

Hujan…

Aku suka sekali bila datang hujan

Hujan yang menyirami lahar panas bumi……

Ini adalah pagi yang cerah

Cerah sekali……

Membentang zambrud hijau hidupku

Hijau…

Aku suka sekali kehijauan

Hijau yang menandakan kehidupan

Ketika bayi mungil lucu girang menggeliat di pagi

Yang buta……

Asap ini adalah asap dari kematiannya

Ia kini benar – benar telah mati

Mati tanpa memandang tangisku…

Dia takkan bisa kembali

Aku berdiri di bukit yang tinggi

Ku pandangi wajah langit…

Akan tetap seperti dulu

Terik

Mendung

Petir

Cerah

Kabut

‘ akan slalu menghiasinya’

Dan aku akan terus hidup

Berjuang

Dan tetap setia

Memandangi langit hidupku

Padang, 7/16/2008

Angin kehidupan

Inikah udara yang akan kuhirup hari ini

Membekas pada kaca yang menjadikannya kusam

‘ Berembun ’

Dan ku bersihkan embunnya dengan tanganku

Tampak diluar sana kehidupan yang membara

Api…api…api…

Kebakaran…!

Lalu kuambil seember air kehidupan

Dan menyiram bara itu

Kini bara itu telah padam

Tapi masih menyisakan asap penyesalan

Suahhh…………………………….!!!!!

Uuh………

“ asap “

pergi………l

disapu angin kencang

+ + / – – / = …? ? ?

‘Hilang’

Bara api yang tersisa

Menjadi saksi

Akan keabadiannya yang mati

Lenyap bersama angin

Yang membawanya…

Padang, 16/07/2008

BUMI

Bumi,

Izinkan aku lebih dekat lagi denganmu

Menyentuhmu dan memelukmu

Agar kubisa merasakan deritamu

Yang menggema diberbagai penjuru mata angin

Bumi,

Izinkan aku lebih dekat lagi denganmu

Merasakan dan meresapimu

Agar aku bisa mendengar rintihanmu

Yang memecah tebing – tebing pantai

Bumi,

Izinkan aku lebih dekat lagi dengan mu

Merasakan kesat dan kelam mu

Agar aku bisa memahami

Dan mengerti perasaanmu

Padang, 19/07/2008

Mencari Obat Batuk Untuk Bumi

Dia yang datang dari jauh

Mengetuk pintu rumahku

Berteriak

memekik

Lalu aku dengan wajah gelisah

tanpa sempat bersisir dulu

Menyahut dan berlari membuka pintu

Meski aku masih mengantuk

Dengan pandangan sayu

Kulihat dia sangat lelah dan bercucuran keringat

Kucoba memahami

ku pandangi lekat – lekat

pria hitam kurus dari puncak gunung ural

( Jauh ya…!)

….

???

….

Ia berbalik memandangiku dengan tatapan tajam

Tatapan harap yang sangat

Aku benar – benar kasihan padanya

Mulutnya bergerak

Mengeluarkan bunyi

Nga’ jelas….

ia terbata – bata

maksudnya apa ? ? ?

ng….ng…

katanya: “ tolong…! sembuhkan bumi yang sedang batuk berat “

Apaan nich masuk telinga …!

( ku perhatikan langit…, nga’ ada petir…! )

sadar ’

Sensori ku mulai bekerja

ZZZ…

( gnvfgrtyabcd )

Hah…!

Kok orang ini bisa sampai sini ?

Tadi naik apa ?

atau jalan kaki

mengembara

( naik turun gunung – melewati lembah – gurun – berenang di samudera )

Waduh…lupa !

jangan – jangan dia mata – mata / tahanan lepas / penghuni RSJ ”

Mungkin saja…

Hah…!

Lari……………

Padang, 16/07/2008

Kemana Ku Cari Diriku

Aku mencoba mencari diriku yang hilang

Di antara tumpukan piring

Tumpukan barang – barang rongsokan

Tumpukan keranjang sampah

Dan tumpukan benda – benda yang malas di lihat orang

Mungkin saja tertonggok di sana

Tapi…tetap saja nihil

Radar jiwaku mencoba bergerak

Ke tempat yang terasa asing bagiku

Kucoba untuk menyatu dalam kedipan

Yang tiba – tiba muncul

Jiwa ku terhanyut….

Aku terlepas ke bait itu

Dalam perjalanan ku temukan barang aneh

Dan aku tak mengenalnya

(yang pasti bukan serpihan Adam Air yang hilang)

Ku cermati lekat – lekat

Tiba – tiba saja ia tak sengaja terlepas olehku

Ia melantun –lantun dengan cepat

Ku tak punya kekuatan untuk mengejarnya

Sudahlah…

Itu tak masalah bagi ku

Ku rasa tuhan ingin mengingatkan ku!

Ini adalah jalan ku…!

Ruang yang mengurungku

m…

aku terkurung di dalam diri ku

“lebih baik aku mati dari pada kehilangan diri ku ”

Padang, 10/06/2008

Malam yang Mencekam

Malam ini aku terbangun lagi

Jarum itu

Bunyi itu

Membuatku tak bisa tidur

malam yang usil

Tik…tik…tik…

Dia begitu bersemangat berceloteh

tentang malam yang telah usai

Dan mengoceh: “Beberapa jam lagi akan datang pagi…!”

Dia begitu yakin mengatakan semua itu

Dia tak sadar kalau sebentar lagi ia akan berakhir

Ya…menit-menit itu

Tunggu saja…!!!

Kau akan merasakannya

‘Maut menggorok lehermu’

Ha..ha….ha…..

Kau takkan bisa selamat

Ceritamu berakhir dalam menit-menit menyayat itu

Kecuali kau memohon padaku

agar ku belikan baterai

Karena tanpa itu nyawamu terancam

Tapi itu takkan pernah terjadi…!

Karena kau angkuh

‘Sombong’

Kau hanya mau berkata tentang waktu

yang kian dekat

Berlalu

BerputaR….tar…..tar…..tar…..

Menepi…pi…pi…pi…

Ya, kau benar!!!

Jagat ini memang sudah tua

Borobudur memang telah lapuk

Menara pisa yang semakin condong

Ya, semuanya akan berakhir…

Tunggu saja masa itu!

Tik…tik…

Kau belum berhenti berdongeng

Bergumam lewat jarum kematian itu

Jarum yang meresahkan malam-malam berapi

Lalu siapa yang pantas disalahkan atas semua itu

Politik yang berantakan

Rakyat yang kelaparan

Budaya yang disapu air hujan

Sejarah yang berlumuran darah

Dunia yang dilanda resesi

Ada yang tidak beres dengan dunia

Dan waktu akan menjawab semua itu

Tik…

Padang, 24/06/2008

Tertawalah…!

Tertawalah pada pengemis yang lewat didepanmu

Tertawalah pada langit yang memberimu minum

Tertawalah pada wanita-wanita penjaja itu

Tertawalah pada api yang membakar rumahmu

Tertawalah pada sampah yang tertonggok didekat istana negara

Tertawalah pada anjing yang mengungung emas itu

Tertawalah…tertawalah…tertawalah…

Inilah hidup itu…!

Kita dibesarkan di keranjang sampah

Padang, 29/06/2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: