Pertengkaran Anak Kandung Budaya

Oleh : Rara Handayani

Kebudayaan merupakan manifestasi yang lahir dari budi serta aktualisasi dari kebebasan manusia menjadikan misi tuhan sebagai budaya. Demi pembentukan budaya kita membutuhkan berbagai mediator misal sebentuk ucapan, tulisan, gerak tubuh, dan pengungkapan lainnya. Pangungkapan bahasa sesuai dengan jalur kehidupan sosial bisa melahirkan budaya. Jika pengungkapan budaya tidak sesuai dengan tatanan kehidupan di daerah tersebut sudah tentu terjadi bentrok budaya dengan budaya Ibu melahirkan sebelumya.

Bentrokan manusia sebagai anak budaya dengan budaya Ibu yang membimbing adalah hal yang tak langka lagi terjadi. Seperti yang pernah terjadi pada mahasiswa di IAIN Sunan Kalijaga. Mereka melihat kenyataan lingkungan di IAIN yang tidak sesuai dengan bahasa budaya IAIN yang diajarkan. Kemudian mereka mengatakan “ Anjinghuakbar” dan mengatakan “Selamat Datang Di Kampus Anti-Tuhan. Ungkapan mereka itu lahir sebentuk kekesalan dan frustasi terhadap kampusnya. Dan ungkapan itu lahir dikarena budaya yang ada. Sehingga mereka telah menjadi anak dari budaya itu sendiri. Lalu siapakah dalam hal ini yang pantas di salahkan ? Apakah mereka-mereka yang melahirkan budaya buruk IAIN atau anak yang memplesetkan “Anjinghuakbar”…Atau budaya yang menjadi ibu dan guru (Alam Takambang Jadi Guru). Dan tentu kita menyesalkan kenapa hal itu mesti terjadi ?

Lalu di mana kehadiran tuhan yang menjelma sebagai sabda yang mengatur hidup kita ? Meminjam ungkapan Komaruddin Hidayat, bahasa bukan sebagai media informasi melainkan sebuah realitas ontologis y ang bereksistensi dan tumbuh dalam panggung sejarah. Penilaian Komaruddin yang bermaksud mengungkap bahasa sebagai penyebab timbulnya budaya adalah benar. Tapi, bukankah Allah menyuruh kita untuk menggunakan akal untuk berfikir kenapa kita harus masuk kedalam realitas yang tidak kita sukai ? Dan di sinilah letak kelemahan manusia. Di sinilah kita sebagai manusia yang di beri akal diuji…!

Seperti yang diungkap Ahmad DZ dalam Puisinya:

Kita adalah

‘ion’

Energi yang di beri

Akal

Karunia

Maka,

Beryukurlah

Di sana Ahmad DZ mencoba menyampaikan kalau akal yang merupakan energi yang di berikan Allah adalah karunia yang disyukuri. Dan jika kita benar-benar mensyukuri semua itu tentu kita akan memahami makna kemunculan Avatara atau nabi-nabi suci utusan tuhan yang bertugas menyampaikan firmannya. Dan tidak menentang hukum keseimbangan kosmik seperti yang dikatakan Ian Steward dalam bukunya Does God Play Dice ?The Matematics of Chaos (1993). Di sana Ian memandang bahwa, mengingkari tuhan sama halnya dengan melawan hukum keseimbangan kosmik, baik dalam skala besar maupun jagat kecil. Misalnya peristiwa Global Warming yang terjadi sekarang yang terjadi karena ulah manusia sendiri yang melawan jagat semesta sehingga ozon menjadi bolong dan sebagian es di kutub mulai mencari perlahan…perlahan…dan perlahan. Sehingga bukan tidak mungkin suatu saat nanti kita yang sok di daratan akan tenggelam dibuatnya.

Pandapat Steward ini yang mencoba melihat dari sisi ilmiah jagat semesta adalah untuk mengajak kita berfikir tentang bahaya melanggar keseimbangan kosmik. Jika keseimbangan kosmik terancam sudah tentu semua makhluk di muka bumi akan celaka. Bukankah Allah menyuruh kita untuk menjadi khalifah yang menjaga bumi untuk yang fana ini. Bagaimana mungkin kita bisa menjaga bumi sementara antara kita saling berbenturan Budaya dan saling mengutamakan ego. Sampai kapan kita bersipekak dalam hal ini. Kita adalah sama-sama makhluk tuhan yang di berikan akal. Kenapa kita menjadikan perbedaan itu sebagai permusuhan ? Sampai kapan kita mau menjadi anak haram dari budaya karena kita lahir membuat kekacauan. Budaya mengutuk kita…! Kenapa kita harus saling bertengkar [ FBI (Fron Pembela Islam) vs AAK-BB ( Aktivis Aliansi kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan)]. Apa tidak ada cara mempertemukan pendapat yang lebih baik dari anarkitis. Lalu apa artinya “Bineka Tunggal Ika itu ?” Haruskah kita tunggu kemurkaan Allah yang maha benar, baru kita sadar.

Rasul SAW tidak pernah menyuruh kita saling bantai…saling bertengkar…! Dan tidak ada orang yang menginginkan semua itu, kecuali orang-orang yang egois…picik…dan paling benar. Dan sampai kapan kita membiarkan penyakit “Sklerosis sok” paling benar di otak kita. Sampai kapan kita bisa bercanda dengan budaya Ibu kandung yang membesarkan kita sebagai muslim dengan tenang.